PROPOSAL
PENELITIAN
KAJIAN
USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT
DI
KELURAHAN LAMPOPALA KECAMATAN RUMBIA KABUPATEN BOMBANA
OLEH
:
WIDYA
ASTUTI
I1A5
12 058
PROGRAM
STUDI AGROBISNIS PERIKANAN
JURUSAN
PERIKANAN
FAKULTAS
PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS
HALU OLEO
KENDARI
2014
1.1
Latar
Belakang
Pembangunan
bidang perikanan telah mengalami kemajuan yang pesat dalam hal peningkatan
produksi, peningkatan ekspor dan peningkatan devisa negara serta peningkatan
taraf hidup masyarakat khususnya nelayan, pembudidaya ikan dan pengolah ikan. Berbagai
kegiatan perikanan telah berorientasi kepada keuntungan. Salah satu komoditi
perikanan yang mempunyai prospek yang baik dan memberi keuntungan bagi
pembudidaya adalah rumput laut Eucheuma
cottonii. Potensi
sumberdaya rumput laut di perairan Sulawesi Selatan cukup besar dan kebutuhan
akan rumput laut di dalam maupun di luar negeri cukup tinggi. Oleh karena itu, budidaya rumput laut merupakan peluang usaha
yang sangat baik bagi penyerapan tenaga kerja keluarga dan masyarakat pesisir
secara optimal.
Kegiatan budidaya rumput laut
merupakan lapangan kerja baru yang bersifat padat karya dan semakin banyak
peminatnya karena teknologi budidaya dan pascapanen yang sederhana dan mudah
dilaksanakan serta pemakaian modal yang relatif rendah sehingga dapat
dilaksanakan oleh pembudidaya beserta keluarganya (Soebarini, 2003). Kondisi
ini didukung oleh harga jual rumput laut yang cenderung membaik, tingkat
pertumbuhan yang tinggi dan waktu pemeliharaan yang singkat sehingga pembudidaya
dapat meraup pendapatan 6 kali setahun (Anggadiredja dkk., 2006). Faktor kemudahan usaha ini
menjadi tumpuan harapan nelayan bermodal kecil sehingga banyak diantaranya
beralih dari usaha penangkapan ikan ke usaha budidaya rumput laut di perairan
pantai.
Rumput laut atau sea
weeds secara ilmiah dikenal dengan istilah alga atau ganggang. Rumput laut
termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Dilihat
dari ukurannya, rumput laut terdiri dari jenis mikroskopik dan makroskopik.
Jenis makroskopik inilah yang sehari-hari kita kenal sebagai rumput laut
(Taurino-Poncomulyo, 2006).
Rumput laut tergolong tanaman
berderajat rendah, umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu, tidak
mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang
disebut thallus. Bentuk thallus
ini beragam, ada yang bulat seperti
tabung, pipih, gepeng, bulat seperti kantong, atau ada juga yang seperti
rambut. Rumput laut tumbuh di alam dengan melekatkan diri pada karang, lumpur,
pasir, batu dan benda keras lainnya. Selain benda mati, rumput lautpun dapat
melekat pada tumbuhan lain secara epifitik (Jana-Anggadiredjo, 2006).
Rumput
laut merupakan bagian terbesar dari tumbuhan laut, pemanfaatan rumput laut
telah meluas di berbagai bidang, seperti : pertanian, kedokteran, farmasi dan
industri. Winarno (1990) menyatakan bahwa jenis rumput laut Eucheuma cottonii, karaginannya sangat
penting bagi stabilisator, bahan pengental, pembentuk gel, pengemulsi, dan
sebagainya. Kemampuan menghasilkan karaginan dimanfaatkan dalam produk makanan,
obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi, dan industri lainnya. Jelaslah
bahwa rumput laut Eucheuma collonii
memiliki prospek sebagai komoditas perdagangan, baik untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri maupun eksport.
Potensi
lahan strategis yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya rumput laut di wilayah perairan laut
Indonesia seluas : 21.500 Ha. Apabila lahan tersebut dibudidayakan rumput laut Eucheuma cottonii dengan asumsi per
hektar hanya menghasilkan 3 ton rumput laut kering, maka dalam waktu 60 hari
akan menghasilkan produk sebanyak 63.500 ton. Produksi rumput laut di Indonesia
saat ini hanya menghasilkan 30.000
sampai 35.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan rumput laut didunia berkisar
antara 3 - 4,2 juta ton per tahun dan untuk jenis rumput laut Eucheuma cottonii yang mengandung
karaginan sebanyak 130.000 ton per tahun. Permintaan rumput laut Eucheuma untuk pabrik dalam negeri
sekitar 18.000 – 20.000 ton per tahun. Ekspor rumput laut di Indonesia sekitar
20.000 ton per tahun, sehingga peluang pasar untuk kebutuhan dalam negeri masih
kekurangan sekitar 10.000 ton per tahun (Ridwan Soeriyadi, 2001).
Pada beberapa daerah lain pengembangan budidaya rumput
laut sudah cukup instensif, namun mengalami penurunan akhir-akhir ini. Kabupaten Bombana secara kewilayahan terdiri atas daratan
seluas kurang lebih 2.929,69 km dan laut sekitar 11.837,31 km. Dengan kondisi
tersebut, potensi sumberdaya kelautan memiliki peluang investasi yang cukup
signifikan. Hasil perikanan Kabupaten Bombana mampu memenuhi kebutuhan, baik
untuk masyarakat lokal maupun ekspor. Berbagai jenis hasil produksi perikanan,
khususnya untuk komoditi ekspor, antara lain ikan sunu, kerapu, kakap,
baronang, lobster, cumi-cumi, benur, rumput laut, dan kerang-kerangan. Secara
ekonomis, peluang investasi pada sektor perikanan masih terbuka dan memiliki
prospek untuk dikembangkan di masa mendatang.
Peluang investasi dimaksud salah satunya budidaya
rumput laut. budidaya rumput di Kabupaten Bombana masih diusahakan secara
perorangan. Kondisi perairan yang belum terkontaminasi oleh pencemaran tentunya
memiliki prospek pengembangan budidaya rumput laut secara besar-besaran dengan
sentuhan teknologi tepat guna.
Kelurahan Lampopala adalah salah satu daerah yang
membudidayakan rumput laut namun dalam pemasarannya masih berbentuk dipasarkan
ke kota Bau-Bau dan Kendari. Karena dalam pengelolaannya, budidaya rumput laut di
Kel. Lampopala masih sangat terbatas pada sarana dan prasarana penunjang
terutama dari bantuan pemerintan yang rendah dan kurangnya usaha nelayan dalam
mengelola hasil dari budidaya rumput laut. Oleh karena itu makan diangkatlah
judul proposal penelitian ini untuk mengkaji usaha budi daya rumput laut di
kelurahan lampopala.
1.2
Rumusan
Masalah
Dari uraian latar
belakang yang telah dijelaskan, maka dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1.
metode budidaya
apa yang sesuai dengan usaha budi daya rumput laut di Kelurahan lampopala. ?
2.
Bagaimana strategi pengembangan budidaya rumput laut di Kelurahan lampopala. ?
1.3
Tujuan
Prnrlitan
Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk:
1
Untuk mengkaji
metode budidaya apa yang
sesuai dengan usaha budi daya rumput laut di Kelurahan lampopala.
2
Bagaimana strategi pengembangan budidaya rumput laut di Kelurahan lampopala.
1.4
Kegunaaan
Penelitian ini
bertujuan untuk mempelajari :
1.
Metode pembudidayaan rumput laut yang
sesuai dengan usaha budi daya rumput
laut di Kelurahan lampopala.
2.
Hasil dari penelitian ini diharapkan
dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan budidaya rumput laut,
meningkatkan produksi dan memberi keuntungan pada petani yang melakukan
budidaya rumput laut.
3.
Hasil dari penelitian ini juga sebagai
bahan masukan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan usaha budidaya rumput
laut yang ada di Kel. Lampopala.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Budidaya
Sebagai permulaan, kita harus
mengetahui apa itu Budidaya, Pengertian Budidaya merupakan kegiatan terencana
pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk
diambil manfaat/hasil panennya. Kegiatan budidaya dapat dianggap sebagai inti
dari usaha tani. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budidaya
adalah “usaha yg bermanfaat dan memberi hasilBudidaya itu terbagi menjadi beberapa
kelompok, yaitu, budidaya perairan, budidaya pertanian/tanaman dan juga
budidaya peternakan.
2.1.1
Budidaya Perairan
Budidaya Perairan (akuakultur) merupakan bentuk
pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan perairan yang
menggunakan air sebagai komponen pokoknya. Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk
di dalamnya adalah budi daya ikan, budi daya udang, budi daya tiram, budi daya
rumput laut (alga). Berbagai Macam Budidaya Perairan akan dibahas di
Blog ini nantinya.
2.1.2
Budidaya Pertanian atau Tanaman
Budidaya Pertanian atau Tanaman, Budidaya Tanaman merupakan
proses menghasilkan bahan pangan serta produk produk agroindustridengan
memanfaatkan sumber daya tumbuhan.Adapun cakupan objek budidaya tanaman
meliputitanaman pangan, hortikultura dan perkebunan. Budidaya tanaman
memiliki dua ciri penting yaitu:
1. selalu melibatkan barang dalam volume besar,
proses produksinya memiliki resiko yang relative tinggi.
2.1.3
Budidaya Peternakan atau Budidaya hewan
(husbandry)
Budidaya Peternakan atau Budidaya hewan (husbandry) melibatkan usaha pembesaran bakalan (hewan muda) atau
bibit/benih (termasuk benur dan nener) pada suatu lahan tertentu selama
beberapa waktu untuk kemudian dijual, disembelih untuk dimanfaatkan daging
serta bagian tubuh lainnya, diambil telurnya, atau diperah susunya (dairy).
Proses pengolahan produk budidaya ini biasanya bukan bagian dari budidaya
sendiri tetapi masih dianggap sebagai mata rantai usaha tani ternak itu.
2.2
Budidaya Rumput Laut
2.2.1 Faktor-Faktor
Budidaya Rumput Laut
Seiring
kebutuhan rumput laut yang semakin meningkat, baik untuk memenuhi kebutuhan
dalam negeri maupun luar negeri, sekaligus memperbesar devisa negara dari
sektor non-migas, maka cara terbaik untuk tidak selalu menggantungkan
persediaan dari alam adalah dengan melakukan budidaya rumput laut. Hingga saat
ini, produksi rumput laut sangat besar didukung oleh budidaya. Berdasarkan data
DKP, 99.73 persen produksi Indonesia adalah dari hasil budidaya. Hal tersebut
dapat terjadi karena potensi alam Indonesia yang sangat mendukung dan hampir
dapat dilakukan di seluruh wilayah Indonesia.
Secara
umum, budidaya rumput laut Indonesia masih dilakukan dengan sederhana. Ada
beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budidaya rumput laut, yang juga
dapat menentukan keberhasilan budidaya itu sendiri. Faktor-faktor tersebut
adalah :
1. Pemilihan lokasi yang memenuhi persyaratan bagi
jenis rumput laut yang akan dibudidayakan. Hal ini perlu dilakukan karena ada
perlakukan yang berbeda untuk tiap jenis rumput laut.
2. Pemilihan atau seleksi bibit yang baik, penyediaan
bibit dan cara pembibitan yang tepat.
3. Metode budidaya yang tepat.
4. Pemeliharaan tanaman.
5. Metode panen dan perlakuan pasca panen yang benar.
6. Pembinaan dan pendampingan secara kontinyu kepada
petani.
2.2.2 Kelayakan Lingkungan dan
Kualitas Perairan
Kelayakan lingkungan dan kualitas
perairan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan rumput
laut. Beberapa parameter lingkungan dan
kualitas perairan yang berpengaruh antara lain:
a.
Kondisi dasar perairan.
Menurut Anggadireja (2006) bahwa dasar perairan
berupa pasir kasar yang bercampur dengan pecahan karang merupakan substrat
dasar yang cocok untuk budidaya rumput laut Eucheuma
cottonii. Hal ini
sejalan dengan pendapat Aslan (1998) bahwa dasar perairan yang ideal untuk
budidaya rumput laut adalah perairan dengan dasarnya terdiri dari pasir kasar (coarse sand) yang bercampur dengan
potongan-potongan karang. Lokasi seperti
ini biasanya berarus sedang sehingga memungkinkan tanaman tumbuh dengan baik
dan tidak mudah terancam oleh faktor-faktor lingkungan serta memudahkan
pemasangan konstruksi budidaya.
b. Tingkat
kecerahan air.
Tingkat kecerahan perairan menunjukkan kemampuan
cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. Kondisi perairan
untuk budidaya Eucheuma
cottonii sebaiknya relatif jernih dengan tingkat kecerahan tinggi. Tingkat
kecerahan diukur menggunakan alat “sechi-disk’
mencapai 2 - 5 m. Kondisi seperti ini dibutuhkan agar cahaya matahari dapat
mencapai tanaman untuk proses fotosintesis (Anggadireja, 2006).
c. Salinitas
dan suhu air.
Lokasi budidaya sebaiknya berjauhan dengan sumber
air tawar untuk menghindari penurunan salinitas secara drastis. Menurut
Anggadireja (2006) salinitas ideal untuk budidaya rumput laut adalah 28 - 33 ‰,
sedangkan Aslan (1998) mengemukakan hal berbeda bahwa salinitas ideal untuk
budidaya rumput laut adalah 30 - 37 ‰.
Suhu berpengaruh langsung terhadap rumput laut dalam
proses fotosintesis, proses metabolisme, dan siklus reproduksi (Rani, dkk,
2009). Menurut Anggadireja (2006) bahwa suhu yang optimal untuk budidaya rumput
laut adalah 26–30ºC, sedangkan pendapat lain dikemukakan oleh Aslan (1998)
bahwa suhu yang idealnya 26 – 33ºC.
d. Pergerakan
air (gelombang dan arus)
Lokasi untuk budidaya rumput laut harus terlindung
dari hempasan gelombang besar dan arus yang terlalu kuat, karena merusak
tanaman rumput laut. Menurut Anggadireja
(2006) kecepatan arus yang baik untuk budidaya rumput laut berkisar 0,2 - 0,4
m/detik, sedangkan menurut Rani, dkk. (2009) bahwa berdasarkan hasil penelitian
budidaya rumput laut jenis Eucheuma
cottonii di Perairan Tonra Kabupaten Bone pada tahun 2007 diperoleh data kecepatan
arus 17,67 - 29,67 cm/detik.
e. Pencemaran.
Bahan pencemar yang mungkin berasal dari buangan
industri, rumah tangga, dan tumpahan minyak (tabrakan kapal tanker, pengeboran
minyak, dan aktivitas nelayan) harus dihindari karena dapat merusak dan
mengganggu tanaman yang dipelihara (Aslan, 1998). Hal ini sejalan dengan pendapat Anggadireja
(2006) bahwa lokasi yang berdekatan dengan sumber pencemaran seperti industri
dan tempat bersandarnya kapal sebaiknya dihindari sebagai lokasi budidaya
rumput laut.
f. Bukan jalur pelayaran dan memperoleh izin dari
pemerintah.
Untuk keamanan dan keberlanjutan budidaya maka
lokasi yang dipilih bukan merupakan jalur pelayaran yang ramai dan tidak dipakai sebagai tempat penyeberangan sehari-hari
(Aslan, 1998 dan Anggadireja, 2006).
Selain itu, kegiatan budidaya rumput laut harus mendapat izin dari
pemerintah setempat sehingga tidak terjadi hambatan dan konflik kepentingan
dengan berbagai pihak.
2.3
Metode Budidaya
2.3.1 Metode Budidaya Rumput Laut
Membudidayakan rumput
laut di lapangan (field culture) dapat dilakukan dengan tiga macam
metode berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan, yakni metode dasar,
metode lepas dasar, metode apung, dan metode rawai/tali panjang
a. Metode
dasar (bottom method)
Metode dasar adalah metode pembudidayaan rumput laut
menggunakan benih bibit tertentu, yang telah diikat, kemudian ditebarkan ke
dasar perairan, atau sebelum ditebarkan benih di ikat dengan batu karang.
Metode ini juga terbagi atas dua yaitu : metode sebaran (broadcast) dan
juga metode budidaya dasar laut (bottom farm method).
b. Metode
lepas dasar (Off-bottom method)
Metode ini dilakukan dengan mengikatkan benih rumput
laut (yang diikat dengan tali rafia) pada rentangan tali nilon atau jaring di
atas dasar perairan dengan menggunakan pancang-pancang kayu. Metode ini terbagi
atas : metode tunggal lepas dasar (Off-bottom monoline method), metode
jaring lepas dasar (Off-bottom-net method), dan metode jaring lepas
dasar berbentuk tabung (Off-bottom-tabular-net method).
Gambar 1. Desain konstruksi metode lepas dasar untuk
budidaya rumput laut Eucheuma cottonii (Anggadireja, 2006)
c. Metode
apung (floating method)
Metode ini merupakan rekayasa bentuk dari metode
lepas dasar. Pada metode ini tidak lagi digunakan kayu pancang, tetapi diganti
dengan pelampung. Metode ini terbagi menjadi : metode tali tunggal apung (Floating-monoline
method), dan metode jaring apung (Floating net method).
Gambar 2. Desain konstruksi metode rakit apung untuk
budidayarumput laut Eucheuma
cottonii
(Anggadireja, 2006)
d.
Metode rawai/tali panjang (long line)
Metode ini paling
banyak digunakan oleh petani pembudidaya, karena fleksibel dalam penggunaan lokasi serta biaya
yang lebih murah. Metode ini dapat diterapkan
pada perairan yang cukup dalam. Untuk
mempertahankan posisi tali utama dan tali ris maka digunakan jangkar dan
pelampung.
Gambar 3. Desain konstruksi metode rawai untuk budidaya
rumputlaut Eucheuma cottonii (Anggadireja, 2006)
2.3.2 Tahapan Budidaya Rumput Laut
Budidaya
rumput laut di perairan pantai amat cocok diterapkan pada daerah yang memiliki
lahan tanah sedikit (sempit) serta berpenduduk padat, sehingga diharapkan
pembukaan lahan budidaya rumput laut diperairan dapat menjadi salah satu
alternatif untuk membantu mengatasi lapangan kerja yang semakin kecil. Menurut
Indriani dan Suminarsih (1999), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
untuk budidaya rumput laut di perairan pantai, yaitu :
1.
Pemilihan Lokasi
Beberapa persyaratan
yang diperhatikan terkait dengan lokasi yakni : perairan cukup tenang,
terlindung dari pengaruh angin dan ombak; tersedianya sediaan rumput alami
setempat (indikator); juga dengan kedalaman yang tidak boleh kurang dari dua
kaki (sekitar 60 cm) pada saat surut terendah dan tidak boleh lebih dari tujuh
kaki (sekitar 210 cm) pada saat pasang tertinggi. Selain itu juga harus
didukung dasar perairan (tipe dan sifat substratum) yang digunakan. Faktor lain
yang juga perlu diperhatikan adalah kualitas air, akses tenaga kerja,
perizinan, dan sebagainya.
2.
Melakukan uji penanaman
Setelah menemukan
lokasi yang secara umum sudah baik, perlu dilakukan uji penanaman untuk
mengetahui apakah daerah tersebut memberikan pertumbuhan yang baik atau tidak.
Pengujian dilakukan dengan metode tali dan metode jaring. Pada metode tali
digunakan tali monofilament atau polyethilene yang diikatkan pada
dua tiang pancang yang dipasang dengan jarak sekitar 12 meter. Sedangkan pada
metode jaring dapat menggunakan jaring monofilament atau polyethilene
dengan ukuran 5 x 2.5 m yang diikatkan pada tiang pancang.
3.
Menyiapkan areal budidaya
Setelah lokasi sudah
dipastikan cukup baik, maka dilakukan persiapan lahan sebagai berikut :
a. Bersihkan
dasar perairan lokasi budidaya dari rumput-rumput laut liar dan tanaman
pengganggu lain yang biasa tumbuh subur.
b. Bersihkan
calon lokasi dari karang, batu, bintang laut, bulu babi, maupun hewan predator
lainnya.
c. Menyiapkan
tempat penampungan benih (seed bin), bisa terbuat dari kerangka besi dan
berjaring kawat atau dari rotan, bambu, ukurannya bervariasi 2 x 2 x 1.5 meter
atau 2 x 2 x 1.5 – 1.7 meter.
4.
Penyediaan bibit
Setelah dipilih metode
budidaya yang akan dilakukan, langkah selanjutnya adalah penyediaan bibit.
Bibit dikumpulkan dari pembibitan langsung, dilakukan dengan beberapa metode
pengumpulan benih, yaitu :
a.
Metode penyebaran secara spontan
Potongan-potongan (fragmen
tetrasporotphyte) diletakkan pada jaring-jaring benih (seed nets)
dan dapat pula diletakkan pada potongan-potongan batu di dalam tangki pengumpul
yang telah diisi air laut. Setelah itu dibiarkan hingga tetraspora menyebar
secara spontan.
b.
Metode kering
Tetrasporotphyte dikeringkan
dibawah sinar matahari selama tiga jam, kemudian ditempatkan dalam tangki
seperti motode a di atas. Prosedur berikutnya sama dengan metode a.
c.
Metode kejutan osmotic
Tetrasporotphyte direndam
dalam air laut berkonsentrasi 1,030 g/cm3 selama 25 menit, kemudian direndam ke
dalam air laut berkonsentrasi normal sambil diaduk dan akhirnya suspensi spora
dapat diperoleh.
5.
Penanaman bibit
Bibit yang akan ditanam
adalah thallus yang masih muda dan berasal dari ujung thallus tersebut.
Saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman benih adalah pada saat cuaca
teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pagi hari atau sore hari
menjelang malam.
6.
Perawatan selama pemeliharaan
Seminggu setelah
penanaman, bibit yang ditanam harus diperiksa dan dipelihara dengan baik
melalui pengawasan yang teratur dan kontinyu. Bila kondisi perairan kurang
baik, seperti ombak yang keras, angin serta suasana perairan yang banyak
dipengaruhi kondisi musim (hujan/kemarau), perlu pengawasan 2-3 hari sekali.
7.
Pemanenan
Pemanenan dapat
dilakukan bila rumput laut telah mencapai berat tertentu, yakni sekitar empat
kali berat awal (waktu pemeliharaan 1.5 – 4 bulan). Cepat tidaknya pemanenan
tergantung metode dan perawatan yang dilakukan setelah bibit ditanam.
8.
Pengeringan hasil panen
Penanganan pasca panen,
termasuk pengeringan yang tepat sangat perlu, mengingat pengaruh langsungnya
terhadap mutu dan harga penjualan di pasar.
Budidaya rumput laut di
tambak merupakan salah satu cara pemanfaatan lahan untuk memenuhi permintaan
rumput laut yang semakin meningkat, terutama untuk rumput laut jenis Gracillaria
sp. Budidaya rumput laut di tambak memiliki lebih banyak keunggulan
daripada budidaya di perairan pantai (laut). Keuntungan itu antara lain : tanaman
rumput laut agak terlindungi dari pengaruh lingkungan yang kurang sesuai, serta
juga memungkinkan untuk dilakukan pemupukan, termasuk kemudian mengontrol
kualitas air, khususnya salinitas.
Dalam penerapan metode
rumput laut perlu memperhatikan sifat biologi/reproduksi, jenis rumput laut
yang dibudidayakan dan kondisi perairan yang dipakai sebagai lokasi budidaya.
a.
Pemakaian Bibit Rumput Laut
Mengingat
kualitas an kuantitas produksi rumput laut ditentukan oleh bibit maka pemilihan bibit harus dilakukan secara
cermat. Bibit rumput laut yang baik berasal dari tanaman induk yang sehat,
segar, bebas penyakit dan jenis rumput laut yang lain. Ciri-ciri bibit rumput
laut Eucheuma yang baik adalah apabila
dipegang terasa elastis, mempunyai cabang yang banyak, ujungnya berwarnah
kuning kemerah-merahan, batang tebal dan bebas dari tanaman yang lain (Indriani
dan Sumiarsih., 1999). Pengumpulan, pengangkutan dan penyimpanan bibit harus dilakukan dalam keadaan lembab,
terhindar dari panas, minyak, air tawar dan bahan kimia (Kolang, dkk, 1996).
Bibit
rumput laut berasal dari stok alam atau dari hasil budidaya. Keuntungan bila
bibit berasal ari stok alam adalah disamping mudah pengadaannya, juga cocok
dengan persyaratan pertumbuhan secara alami. Sedangkan kerugiannya adalah bibit
sering bercampur dengan jenis rumput laut lain dan biasanya jumlahnya terbatas.
Bibit yang berasal dari hasil budidaya lebih murni karena terdiri dari satu
jenis rumput laut, tetapi sering mengalami kesulitan dalam hal mendatangkannya.
Sumber bibit sedapat mungkin dekat dengan lokasi budidaya, keadaan ini akan
mengurangi permasalahn pengangkutan, penyimpanan dan penurunan mutu bibit
(Aslan, 1995).
Pengadaan
bibit dapat dengan memanfaatkan sifat reproduksi vegetatif. Bibit dipilih
bagian ujung tanaman karena bagian ini teriri dari sel dan jaringan muda
sehingga akan memberikan pertumbuhan yang normal. Selanjutnya dinyatakan bahwa
ada juga petani/nelayan yang tidak perlu susah-susah mengadakan bibit. Mereka
mendapatkan tanaman baru dari sisa panen yang ditinggalkan di tempat budidaya.
Jadi, mereka memungut hasil dengan memotong rumput laut tanpa membuka ikatan.
Dan menyisakan bagian tanaman tetap dalam ikatan dilokasi budidaya. Cara ini
tidak dianjurkan karena akan didapatkan produk rumput laut engan kandungan
karaginan yang rendah.
b.
Waktu Pemeliharaan Rumput Laut
Untuk
memperoleh rumput laut yang bermutu baik, maka perlu diperhatikan umur panen.
Umur panen tergantung pada jenis tanaman dan metode budidaya rumput laut.
Hidayat (1994), menyatakan bahwa jika memakai metode apung, dalam waktu 2-4
bulan rumput laut sudah dapat dipanen. Sedangkan Aslan (1995) menyatakan
pemanenan dilakukan bila rumput laut
telah mencapai berat tertentu, yakni sekitar empat kali berat awal dalam
pemeliharaan 1,5 – 4 bulan dan menurut Kolang dkk. (1996) umur panen jenis Eucheuma adalah 1,5-2 bulan.
c.
Hasil Produksi Rumput Laut
Jenis Eucheuma dengan metode apung
dari berat bibit 100 gram dapat mencapai pertumbuhan sekitar 500-600 gram
selama pemeliharaan 1 ½ - 2 bulan. Pada
metode apung dengan 3 kali tanaman dalam setahun dapat diproduksi kurang
lebih 144 ton per hektar.
2.4
Analisis
Finansial Budidaya Rumput Laut
Perencanaa dan analisis
usaha sangatlah dibutuhkan untuk membuat suatu rencana menjadi kenyataan. Oleh
karena itu, mengingat adanya Sumber-sumber/ faktor produksi yang terbatas
ketersediaannya, maka untuk dapat memperoleh manfaat yang diharapkan dari sesuatu
usaha sebaiknya belum di ambil keputusan untuk melakukan inestasi, berbagai
unsur perlu dipersiapkan dan di uji serangkaian kegiatan penelaahan yang pada
akhirnyaakan mencerminkan suatu studi kelayakan. Hal ini akan menjawab apakah
suatu rencana investasi layak atau tidak, atau dengan perkataan lain, apakah
rencana investasi tersebut menguntungkan atau tidak.
Keterbatasan
sumberdaya mengharuskan dilakukannya pilihan di antara berbagai alternatif
penggunaan yang saling bersaing. Oleh karena itu, sebelum sejumlah sumber daya
diputuskan untuk dialokasikan kedalam suatu kegiatan investasi, maka perlu di
kaji apakah pelaksanaannya memberi manfaat bersih yang maksimal bagi
masyarakat. Purba (1997) menyatakan bahwa aspek yang perlu sekali di pelajari
dalam penelitian dan penilaian suatu
proyek adalah aspek manfaat dan biaya. Ini sangat penting guna memperoleh
gambaran atas manfaat yang akan diperoleh, yaatu manfaat finansial. Metode
analisis yang relefan dengan masalah ini adalah analisis biaya-manfaat.
Analisis ini adalah salah satu metode untuk menunjukkan apakah suatu proyek
layak dilaksanakan.
Pada
prinsipnya analisis biaya-manfaat suatu proyek dapat dilakukan melalui dua
pendekatan, tergantung siapa yang berkepentingan langsung. Pertama, analisis
finansial dilakukan apabila yang berkepentingan langsung adalah individu yang
bertindak sebagai investor. Kedua, analisis ekonomi dilakukan apabila yang
berkepentingan langsung adalah pemerintah dan masyarakat secara keseluruhan
(Suparmoko, 1997).
Rencana
investasi dalam analisis finansial ditinjau dari segi cash-flow, yaitu: perbandingan antara hasil penjualan kotor dengan
jumlah biaya-biaya; bila menunjukkan net
benefit positif (profit) maka
rencana investasi tersebut dilanjutkan, atau dinyatakan layak. Bila sebalikknya,
yaitu menunjukkan net benefit yang
negatif (rugi), maka investasi tersebut dibatalkan (Djamin, 1993).
2.5 Kesejahteraan
Masyarakat Pesisir
Salah satu indikator dalam mengukur tingkat
kesejahteraan masyarakat adalah pendapatan rumah tangga. Pendapatan rumah tangga dapat diketahui
dengan menjumlahkan pendapatan keluarga dari semua sumber pendapatan misalnya
pendapatan dari usaha perikanan, dagang, dan usaha jasa lainnya. Sumber pendapatan yang beragam tersebut dapat
terjadi karena anggota rumah tangga yang bekerja melakukan lebih dari satu
jenis kegiatan atau masing-masing anggota rumah tangga mempunyai kegiatan yang
berbeda dengan yang lainnya. Pendapatan
juga dapat diperoleh dari jasa, aset atau sumbangan dari pihak lain, dan semua
itu merupakan total pendapatan rumah tangga (Ananta, 1988).
Menurut Ananta (1988), bahwa ukuran pendapatan
yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga adalah pendapatan
keluarga dari bekerja. Setiap anggota keluarga berusia kerja di dalam rumah tangga
akan terdorong bekerja untuk
kesejahteraan keluarga. Beberapa hasil
studi menunjukkan bahwa anggota keluarga seperti istri dan anak-anak adalah
penyumbang dalam berbagai kegiatan baik dalam pekerjaan rumah tangga maupun
mencari nafkah. Perkembangan budidaya rumput laut di wilayah pesisir diharapkan
akan meningkatkan pendapatan dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di wilayah pesisir.
2.6 Kerangka Pikir
Kabupaten Bombana merupakan daerah yang sangat prospektif untuk
pengembangan budidaya rumput laut, dimanan potensi sumberdaya alam dan manusia sangat mendukung untuk
pengembangan seluas 11.837,31 ha, seiring dengan perkembangan kegiatan budidaya rumput
laut, harga dan permintaan pasar lokal maupun manca negara yang cukup tinggi
walaupun masih fluktuatif. Dengan kondisi tersebut, potensi sumberdaya kelautan
memiliki peluang investasi yang cukup signifikan. Hasil perikanan Kabupaten
Bombana mampu memenuhi kebutuhan, baik untuk masyarakat lokal maupun ekspor.
Berbagai jenis hasil produksi perikanan, khususnya untuk komoditi ekspor,
antara lain ikan sunu, kerapu, kakap, baronang, lobster, cumi-cumi, benur, rumput
laut, dan kerang-kerangan. Secara ekonomis, peluang investasi pada sektor
perikanan masih terbuka dan memiliki prospek untuk dikembangkan di masa
mendatang.
Penelitian ini mengkaji bagaimana mengembangkan budidaya
rumput laut Eucheuma
cottonii dengan memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi serta permasalahan yang
muncul, misalnya: (1). Pemilihan lokasi
yang memenuhi persyaratan bagi jenis rumput laut yang akan dibudidayakan. Hal
ini perlu dilakukan karena ada perlakukan yang berbeda untuk tiap jenis rumput
laut. (2). Pemilihan atau seleksi bibit yang baik, penyediaan bibit dan cara
pembibitan yang tepat. (3). Metode budidaya yang tepat. (4). Pemeliharaan
tanaman. (5). Metode panen dan perlakuan pasca panen yang benar. (6). Pembinaan
dan pendampingan secara kontinyu kepada petani. Kontribusi faktor-faktor yang berpengaruh
tersebut diukur untuk mengetahui besaran pengaruhnya terhadap pengembangan
berkelanjutan budidaya rumput laut melalui pendekatan analisis deskriptif
kualitatif dan kuantitatif serta analisis tingkat kelayakan usaha.
Dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dan
dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap pengembangan berkelanjutan
budidaya rumput laut, maka dapat ditentukan strategi pengembangan berkelanjutan
budidaya rumput laut tersebut. Strategi
pengembangan berkelanjutan budidaya rumput laut dikaji melalui pendekatan
analisis SWOT yaitu analisis
kualitatif untuk mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal secara
sistematis yang didasarkan pada logika memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), serta meminimalisir
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).
Strategi kebijakan yang dipilih diharapkan dapat menjadikan budidaya rumput laut berkembang sehingga meningkatan kesejahteraan
pembudidaya rumput laut dan masyarakat pesisir pada umumnya. Kerangka pikir penelitian dapat dilihat pada gambar 4.
|
BUDIDAYA
RUMPUT LAUT
|
|
METODE
DASAR (BOTTOM METHOD)
|
|
METODE LEPAS DASAR (OFF-BOTTOM
METHOD)
|
|
METODE APUNG (FLOATING METHOD)
|
|
METODE RAWAI/TALI PANJANG
(LONG LINE)
|
|
ANALISIS
PENGEMBANGAN
USAHA
BUDIDAYA
RUMPUT LAUT
|
|
KESEJAHTERAAN
MASYARAKAT
PESISIR
|
Gambar 4. Skema Kerangka Pikir
III.
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan
selama 2 (dua) bulan yaitu bulan Oktober sampai dengan November 2014, Kelurahan
Lampopala Kecamatan Rumbia Kabupaten Bombana. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa daerah ini memiliki potensi sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia yang besar.
3.2 Alat dan Bahan
Materi yang dipergunakan dalam
penelitian tentang kajian usaha budidaya rumput laut, Eucheuma cottonii ditinjau dari umur dan jarak tanam bibit, adalah
sebagai berikut:
3.2.1 Bahan
Bahan yang digunakan terdiri dari:
1. Bibit rumput laut, Eucheuma cottonii
2. Rakit apung yang terbuat dari bambu petung,
ukuran 4 x 3,6 meter
3. Tali ris dari bahan Poly Ethelen (PE) diameter
0,4 cm
4. Tali penghubung antar rakit apung dari bahan poly
Ethelen (PE) diameter 0,8 cm.
5. Tali jangkar dari bahan Poly Ethelen (PE)
diameter 1,2 cm
6. Tali rafia
7. Jangkar terbuat dari blik semen seberat 10-12,5
kg
3.2.2 Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri dari:
1. Alat yang digunakan untuk membuat rakit apung
yang meliputi: Gergaji, palu, paku/pasak, golok, meteran, bor, dll.
2. Alat yang digunakan untuk penanaman rumput laut
meliputi: gunting, cutter, penggaris, kacamata selam, perahu jukung, label,
lilin, bendera plastik, ember/baskom besar.
3. peralatan yang digunakan untuk sampling meliputi:
timbangan, alat tulis (spidol, pena, buku, penggaris) dan lain-lain.
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1
Persiapan
Penelitian
1. Pembuatan Rakit
Menurut
Sunaryat et.al. (2001), metode rakit sudah banyak dikembangkan
dilapangan. Metode ini lebih sederhana dan mudah untuk diterapkan di perairan
yang memiliki kedalaman waktu surut terendah lebih dari 60 cm sampai perairan
agak dalam. Proses pembuatan rakit dapat adalah sebagai berikut :
· Disiapkan
potongan bambu berdiameter 8-12 cm dengan panjang 5 dan 3,5 meter serta
potongan bambu penyiku berdiameter 5-10 cm. Disiapkan pula tali pengikat bambu
berdiameter 6 mm, tali ris berdiameter 4 mm, tali jangkar berdiameter 12-15 mm
serta jangkar dari karung yang diisi pasir.
· Potongan-potongan
bambu dilubangi untuk memasang pantek selanjutnya dilakukan pengikatan. Untuk
memperkuat rakit disetiap sudut dipasang siku dari potongan bambu.
· Potongan-potongan
bambu dirangkai dan diikat hingga menjadi empat persegi panjang dengan posisi
bambu untuk dipasang tali ris berada dibagian bawah agar thallus agak
tenggelam pada saat ditanam. Pada bagian tengah rakit juga dipasangi bambu pada
sisi bambu rakit yang tenggelam sebagai penyeimbang.
· Jangkar
dipasang pada sisi bambu yang tenggelam serta bambu bagian tengah dengan
panjang tali jangkar antara 2,5-3 kali kedalaman perairan. Kemudian rakit
ditarik pada posisi lokasi yang diinginkan dengan menggunakan perahu motor.
· Penempatan
rakit dilakukan dengan memperhatikan kepentingan aktivitas lain seperti jalur
lalu lintas nelayan maupun lahan rakit milik petani yang lain.
2. Pembuatan Stok Bibit Rumput Laut Eucheuma
cottonii
· Rumput
laut untuk keperluan pembibitan ditanam pada rakit dengan jarak tanam 25 cm dan
jarak antar tali ris 20 cm.
· Rumput
laut ditanam dengan menggunakan perhitungan waktu sesuai dengan umur yang
diinginkan, sehingga diharapkan dapat ditanam secara serentak pada hari ke-40.
3.3.2 Pelaksanaan
Penelitian
1. Perendaman Bibit Dengan ZPT Agrogibb
·
Bibit rumput laut dipisahkan sesuai
dengan kombinasi perlakuan kemudian ditimbang seberat 60 gram sebagai berat
bibit awal (W0).
·
Bibit kemudian direndam dalam larutan
ZPT Agrogibb dengan dosis 0,0549 ml/l selama 2,5 jam sesuai dengan perlakuan
masing-masing yaitu 1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali.
·
Penimbangan berat bibit total dilakukan
untuk menentukan volume perendaman, yakni menggunakan perbandingan rasio 1
liter : 100 gram bibit. Interval untuk perlakuan perendaman adalah 1 minggu
dengan asumsi bahwa usia tanam rumput laut selama 30 hari.
·
Perendaman dilakukan di dalam lambung
perahu untuk semua perlakuan dengan waktu perendaman dilakukan pada pagi hari
untuk mencegah terjadinya fluktuasi suhu yang tinggi
2. Penanaman Bibit
·
Bibit rumput laut dipisahkan menurut
kombinasi perlakuan dan diberi kode sebagai penanda.
·
Kotoran, lumut dan teritip yang menempel
pada rakit dibersihkan terlebih dahulu dengan menggunakan parang. Bibit rumput
laut kemudian ditanam pada rakit dengan jarak tanam 25 cm dan jarak antar tali
ris 20 cm.
·
Kotoran dan lumut yang menempel pada rumput
laut dibersihkan setiap hari dengan menggoyang secara teratur dan perlahan
didalam air
3. Pengamatan Laju Pertumbuhan
·
Pengamatan terhadap pertambahan berat
dilakukan setiap minggu dengan cara menimbang berat rumput laut beserta tali
kemudian dikurangi berat tali. Pengamatan berat sekaligus dilakukan untuk
menentukan volume dan dosis perendaman Agrogibb.
·
Pengamatan terhadap volume rumput laut Eucheuma
cottonii dilakukan pada awal, tengah dan akhir penelitian dengan
menggunakan sampling sebanyak 30% untuk setiap kombinasi perlakuan kemudian
dirata-rata.
4. Pengamatan Jumlah Tunas
·
Pengamatan terhadap jumlah tunas dengan
menggunakan sampling sebanyak 30% untuk setiap kombinasi perlakuan kemudian
dirata-rata. Penghitungan jumlah tunas dilakukan pada awal dan akhir
penelitian.
3.4 Rancangan
Penelitian
Adapun perlakuan dalam penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang mempunyai model sebagai berikut :
Y = μ + R + α +
β + α,β +
ε
Dimana : Y = nilai pengamatan
μ = nilai rata-rata harapan
R
= pengaruh kelompok
α =
pengaruh faktor perlakuan I
β =
pengaruh faktor perlakuan II
α,β =
pengaruh interaksi faktor perlakuan I dan II
ε =
galat percobaan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial pada
penelitian ini terdiri dari dua faktor perlakuan dan tiga kelompok. Faktor
perlakuan tersebut meliputi :
· Faktor
Perlakuan I (Penggunaan umur bibit yang berbeda)
A = umur bibit 20 hari
C = umur bibit 30 hari E = umur bibit 40 hari
B = umur bibit 25 hari
D = umur bibit 35 hari
· Faktor
Perlakuan II (Penggunaan frekuensi perendaman Agrogibb yang berbeda)
K = Kontrol (Tanpa Perendaman) c = 3 kali (Minggu 0,
1 dan 2)
a = 1 kali (Minggu 0) d = 4 kali (Minggu 0, 1, 2 dan
3)
b = 2 kali (Minggu 0 dan 1)
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan (variabel bebas)
terhadap respon parameter yang diukur (variabel tak bebas) digunakan analisa
keragaman uji F. Apabila nilai F berbeda sangat nyata dilanjutkan dengan uji
BNT (Beda Nyata Terkecil). Untuk perlakuan yang memberikan respon terbaik pada
taraf 0,05 dengan derajat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui hubungan antara
perlakuan dengan hasil yang dipengaruhi, digunakan analisa regresi yang
bertujuan untuk menentukan sifat dan fungsi regresi yang memberikan keterangan
mengenai pengaruh perlakuan yang terbaik pada respon (Gaspersz, 1991).
3.5
Analisis Data
Analisis data dilakukan
dengan cara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk
mengetahui gambaran mengenai aspek-aspek yang dikaji dalam analisis kelayakan
usaha budidaya rumput laut yang dijelaskan secara deskriptif. Faktor- faktor
tersebut antara lain: Pemilihan lokasi
yang memenuhi persyaratan bagi jenis rumput laut yang akan dibudidayakan. Hal
ini perlu dilakukan karena ada perlakukan yang berbeda untuk tiap jenis rumput
laut, Pemilihan atau seleksi bibit yang baik, penyediaan bibit dan cara
pembibitan yang tepat, Metode budidaya yang tepat, Pemeliharaan tanaman, Metode
panen dan perlakuan pasca panen yang benar, Pembinaan dan pendampingan secara
kontinyu kepada petani.
Analisis kuantitatif dilakukan untuk mengetahui
kelayakan finansial usaha budidaya rumput laut berdasarkan dengan kriteria
kelayakan investasi. Data kuantitatif dikumpulkan, kemudian diolah dengan
menggunakan software SPSS dan software microsoft excel yang
akan ditampilkan dalam bentuk tabulasi sehingga dapat dijelaskan secara
deskriptif.
DAFTAR
PUSTAKA
Adisasmita.
2006. Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Afrianto, E. dan
E, Liviawaty. 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya.
Penerbit Bhratara. Jakarta.
Aslan, L.M.
1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Gaspersz, V.
1991. Metode Perancangan Percobaan. Armico. Bandung.
Jana-
Anggadiredjo, 2006. Rumput Laut.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Mubarak, H. et.al.
1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Departemen Pusat
Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Jakarta.
Nazir, M. 1988. Metode
Penelitian. PT Ghalia Indonesia. Jakarta.
http://ebudidaya.com/pengertian-budidaya/ di akses pada tanggal 29 September 2014 pada pukul 19.30
WITA.
http://iyuskelautansatu.wordpress.com/2010/06/08/konsep-budidaya-laut/ di akses pada tanggal 29 September 2014 pada pukul 19.32
WITA.
http://rumputlaut-info.blogspot.com/2013/03/teknik-budidaya-rumput-laut-indonesia.html di akses pada tanggal 29 September 2014 pada pukul 19.33
WITA.
http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-rumput-laut.hml di akses pada tanggal 29 September 2014 pada pukul 19.35
WITA.
http://kekerangan.blogspot.com/2008/09/teknik-budidaya-abalone-haliotis.html di akses pada tanggal 29 September
2014 pada pukul 19.40 WITA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar